Peran Strategis Sentra KI dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia

oleh: Mhd Hendra Wibowo[1]

“Indonesia Kreatif dan Mandiri Teknologi melalui Pendayagunaan Kekayaan Intelektual (KI)” adalah cita-cita yang wajar saja, namun untuk meraihnya diperlukan kerja keras berbagai pihak.

Posisi Daya Saing Indonesia

Secara global, terdapat dua indeks pemeringkatan yang mengukur daya saing suatu bangsa, yaitu Global Competitiveness Index Ranking yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) dan Global Innovation Index yang dikeluarkan oleh World Intelectual Property Organization (WIPO). Indeks daya saing global Indonesia menurut versi WEF mengalami penurunan, pada tahun 2015-2016 berada pada peringkat 37 sedangkan pada tahun 2016-2017 mengalami penurunan menjadi peringkat 41. Data WIPO memperlihatkan indeks inovasi global Indonesia cenderung menurun pada tahun 2013-2015, yaitu peringkat 85 di tahun 2013, peringkat 87 di tahun 2014, dan peringkat 97 di tahun 2015, namun pada tahun 2016 dan 2017 peringkat Indonseia kembali naik menjadi peringkat 88 di tahun 2016 dan pada tahun 2017 naik satu peringkat menjadi peringkat 87 dari 127 negara yang dinilai.

Data permohonan paten internasional Indonesia melalui sistem Patent Cooperation Treaty (PCT) memperlihatkan bahwa Indonesia masih sangat jauh untuk dikatakan mampu bersaing secara global. Sepuluh besar permohonan paten PCT di dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat, Jepang, Cina, Jerman, Korea Selatan, Prancis, Inggris, Belanda, Swiss, dan Swedia. Salah satu kekuatan baru di dunia yang perkembangan permohonan paten PCT-nya sangat signifikan adalah Cina, dimana dari tahun 2015 ke tahun 2016 permohonan paten PCT Cina mengalami peningkatan 44.7%. Padahal permohonan paten PCT menjadi salah satu kriteria yang dinilai dalam pilar ke-12 (pilar inovasi) indeks daya saing global versi WEF.

Melihat ke dalam negeri, memperlihatkan bahwa sebagian besar teknologi yang diterapkan oleh industri di Indonesia berasal dari luar negeri. Data yang disampaikan dalam Permenristekdikti No. 13/2015 tentang Rencana Strategis Kemenristekdikti Tahun 2015-2019, memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam negeri di industri masih rendah (Gambar 1). Negara-negara yang paling banyak digunakan teknologinya adalah Jepang, Cina, Jerman dan Taiwan. Berdasarkan permohonan paten yang terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham memperlihatkan permohonan paten PCT yang merupakan permohonan paten dari luar yang masuk ke Indonesia juga memperlihatkan dominasi teknologi asing (Gambar 2).

Gambar 1 Sumber Teknologi Industri Manufaktur di Indonesia

Sumber: Kemenristek-BPPT (2011) dalam Permenristekdikti No. 13/2015

Gambar 1 Sumber Teknologi Industri Manufaktur di Indonesia

 

Gambar 2 Permohonan Petan di Indonesia

Sumber: diolah dari https://statistik.dgip.go.id/statistik/production/paten_jenis.php, diakses 04 Juli 2017

Gambar 2 Permohonan Petan di Indonesia

 

Peran Sentra KI di Indonesia

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU SisnasP3Iptek) telah mengamanatkan kepada perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) untuk mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual (KI) serta hasil kegiatan litbang kepada badan usaha, pemerintah, atau masyarakat. Hal senada juga dinyatakan dalam UU Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten bahwa Pemegang Paten wajib membuat produk atau menggunakan proses di Indonesia yang harus menunjang transfer teknologi, penyerapan investasi dan/atau penyediaan lapangan kerja.

Lebih lanjut UU SisnasP3Iptek menyatakan bahwa dalam meningkatkan pengelolaan KI, perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan Sentra KI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Selama 15 tahun sejak dikeluarkan UU SisnasP3Iptek, pengelolaan KI oleh Sentra KI bukanlah tanpa tantangan dan hambatan, tidak sedikit Sentra KI yang telah terbentuk tidak berfungsi dengan baik karena kurangnya dukungan dan komitmen dari pimpinan institusi dan kurangnya pembinaan dari Pemerintah.

Saat ini, kapasitas Sentra KI dalam mengelola KI yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang masih beragam. Berdasarkan kapasitasnya dalam mengelola KI, Sentra KI dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu 1) Pemula, Sentra KI yang baru terbentuk atau Sentra KI yang masih menjalankan fungsi sebatas sosialisasi dan peningkatan perolehan (pendaftaran) KI; 2) Madya (Intermediate), Sentra KI yang sistem sosialisasi dan pendaftaran KI-nya telah berjalan dengan baik, secara struktur organisasi telah mapan, dan mulai menjalankan fungsi dan aktivitas promosi inovasi berbasis KI; 3) Advanced, Sentra KI yang telah menjalankan fungsi sebagai Technology Transfer Office (TTO), Sentra KI telah melakukan upaya-upaya promosi teknologi/inovasi, alih teknologi dan komersialisasi KI.

Pembinaan untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas Sentra KI harus dilakukan secara kontinu dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terkait. Dengan demikian, Sentra KI akan mampu berperan dalam mengusahakan alih teknologi KI serta hasil kegiatan litbang kepada badan usaha, pemerintah, atau masyarakat, seperti diamanatkan dalam UU SisnasP3Iptek.

Peran Sentra KI menjadi sangat strategis dalam proses alih teknologi atau hilirisasi hasil riset dan inovasi, khususnya sebagai intermediator atau penghubung dalam kolaborasi quadra helix, yaitu Academia, Business, Government, dan Community (A-B-G-C) yang kemudian berkembang dengan bantuan Media atau Intermediator (M) menjadi konsep penta helix. Academia (perguruan tinggi dan lembaga litbang) diharapkan dapat berkolaborasi dengan Business (industri) dan Community dalam melakukan dan menghasilkan litbang yang sesuai kebutuhan industri didukung dengan berbagai platform Media yang tersedia. Business dan Community pun diharapkan tidak hanya sekedar berperan sebagai pengguna hasil litbang/inovasi, tetapi lebih dari itu, mau terlibat (berinvestasi) dan memberikan input (masukan) sejak riset dilakukan. Government (Pemerintah) dengan berbagai kebijakan dan programnya, antara lain Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS), Insentif Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI), Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT), Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT), Industri Pemula Berbasis Teknologi (IPBT), pengembangan Science & Technology Park (STP), special media engagement program dan lain-lain, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kolaborasi A-B-G-C-M tersebut. Keberhasilan kolaborasi A-B-G-C-M dengan Sentra KI sebagai intermediatornya pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pembangunan ekonomi Indonesia yang berbasis pada KI dan hasil litbang sendiri. Dengan demikian, cita-cita untuk menjadikan “Indonesia Kreatif dan Mandiri Teknologi melalui Pendayagunaan Kekayaan Intelektual (KI)” dapat tercapai.

 

Referensi

  • [DJKI] Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. 2017. e-Statistik Kekayaan Intelektual. [Internet]. [Diacu 2017 Juli 04]. Tersedia dari https://statistik.dgip.go.id/statistik/production/paten_jenis.php.
  • Dutta S, Lanvin B. 2013. The Global Innovation Index 2013: The Local Dynamics of Innovation. Cornell University, INSEAD, dan World Intellectual Property Organization.
  • Dutta S, Lanvin B, Wunsch-Vincent S. 2014. The Global Innovation Index 2014: The Human Factor in Innovation. Cornell University, INSEAD, dan World Intellectual Property Organization.
  • Dutta S, Lanvin B, Wunsch-Vincent S. 2015. The Global Innovation Index 2015: Effective Innovation Policies for Development. Cornell University, INSEAD, dan World Intellectual Property Organization.
  • Dutta S, Lanvin B, Wunsch-Vincent S. 2016. The Global Innovation Index 2016: Winning with Global Innovation. Cornell University, INSEAD, dan World Intellectual Property Organization.
  • Dutta S, Lanvin B, Wunsch-Vincent S. 2017. The Global Innovation Index 2017: Innovation Feeding the World. Cornell University, INSEAD, dan World Intellectual Property Organization.
  • Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Tahun 2015-2019.
  • Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2016 tentang Paten.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
  • [WEF] World Economic Forum. Global Competitiveness Index Ranking. [Internet]. [Diacu 2017 Juli 04]. Tersedia dari http://reports.weforum.org/global-competitiveness-report-2015-2016/.
  • WEF] World Economic Forum. Global Competitiveness Index Ranking. [Internet]. [Diacu 2017 Juli 04]. Tersedia dari http://reports.weforum.org/global-competitiveness-index/country-profiles/#economy=IDN.

 

[1] Koordinator HKI dan Inovasi, Direktorat Riset dan Inovasi IPB.

This entry was posted in Artikel KI, Post. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *